- Sistem politik yang kurang stabil
Sistem politik yang
kurang stabil dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara selain
menimbulkan berbagai masalah dalam hidup dan kehidupan di masyarakat
juga merupakan faktor penghambat lahirnya kepala sekolah profesional.
Wakil-wakil rakyat di dewan yang lamban dan plin-plan dalam mengambil
suatu prakarsa serta selalu menunggu demonstrasi masyarakat dalam
mengambil suatu keputusan merupakan suatu sistem politik yang kurang
stabil dan kurang menguntungkan. Kondisi semacam ini sangat mewarnai
berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan, beserta komponen yang
tercakup di dalamnya. Pengembangan sumber daya pembangunan melalui
sistem pendidikan yang memadai perlu ditunjang oleh sistem politik yang
stabil dan kemauan politik yang positif dari pemerintah. Termasuk dalam
hal ini adalah anggaran belanja yang dialokasikan untuk pendidikan.
- Rendahnya sikap mental
Rendahnya sikap mental
sebagian kepala sekolah merupakan faktor penghambat tumbuhnya kepala
sekolah profesional. Rendahnya sikap mental tersebut antara lain
terlihat dalam bentuk kurang disiplin dalam melaksanakan tugas, kurang
motivasi dan semangat kerja, serta sering datang terlambat ke sekolah
dan pulang lebih cepat dari guru dan tata usaha sekolah. Kondisi-kondisi
tersebut sangat menghambat dan merupakan tantangan bagi tumbuh
kembangnya kepala sekolah profesional yang harus dicarikan jalan
pemecahannya secara tepat dan tepat.
- Wawasan kepala sekolah yang masih sempit
Tidak semua kepala
sekolah memiliki wawasan yang cukup memadai untuk melaksanakan tugas dan
fungsinya dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah. Sempitnya
wawasan tersebut terutama terkait dengan berbagai masalah dan tantangan
yang harus dihadapi oleh para kepala sekolah dalam era globalisasi
sekarang ini, dimana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama
teknologi informasi begitu cepat. Begitu cepatnya perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi menyulitkan sebagian kepala sekolah dalam
melaksanakan fungsinya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di
sekolah, yang mampu menghasilkan lulusan untuk dapat bersaing di era
yang penuh ketidakpastian dan kesemrawutan global (chaos). Kondisi
tersebut antara lain disebabkan oleh faktor kepala sekolah yang kurang
membaca buku, majalah dan jurnal; kurang mengikuti perkembangan; jarang
melakukan diskusi ilmiah; dan jarang mengikuti seminar yang berhubungan
dengan pendidikan dan profesinya. Disamping itu, sempitnya wawasan
kepala sekolah disebabkan oleh keberadaan Kelompok Kerka Kepala Sekolah
(K3KS) yang belum didayagunakan secara optimal untuk meningkatkan
profesionalisme kepala sekolah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.
Demikian pula halnya dengan keberadaan Musyawarah Kepala Sekolah (MKS)
dimana lembaga ini hanya berperan sebagai tempat berunding kepala
sekolah untuk menentukan besarnya pungutan terhadap peserta didik untuk
melakukan suatu kegiatan.
- Pengangkatan kepala sekolah yang belum transparan
Pengangkatan kepala
sekolah yang belum transparan merupakan suatu faktor penghambat tumbuh
kembangnya kepala sekolah profesional. Hasil kajian menunjukkan bahwa
pengangkatan kepala sekolah dewasa ini belum atau tidak melibatkan
pihak-pihak masyarakat dan dunia kerja. Disamping itu, keputusan
pemerintah mengenai jabatan kepala sekolah selama empat tahun dan
setelah itu dapat dipilih kembali untuk satu periode berikutnya belum
dapat dilaksanakan. Hal tersebut secara langsung merupakan penghambat
tumbuhnya kepala sekolah profesional yang mampu mendorong visi menjadi
aksi dalam peningkatan kualitas pendidikan.
- Kurang sarana dan prasarana
Kurangnya sarana dan
prasarana pendidikan seperti perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja
(workshop), pusat sumber belajar (PSB) dan perlengkapan pembelajaran
sangat menghambat tumbuhnya kepala sekolah profesional. Hal ini terutama
berkaitan dengan kemampuan pemerintah untuk melengkapinya yang masih
kurang. Disamping itu, walaupun pemerintah sudah melengkapi buku-buku
pedoman dan buku-buku paket namun dalam pemanfaatannya masih kurang.
Beberapa kasus menunjukkan banyak buku-buku paket belum didayagunakan
secara optimal untuk kepentingan pembelajaran, baik guru maupun oleh
peserta didik.
- Lulusan kurang mampu bersaing
Rendahnya kemampuan
bersaing dari lulusan pendidikan sekolah banyak disebabkan oleh kualitas
hasil lulusan yang belum sesuai dengan target lulusan, sehingga para
lulusan masih sulit untuk bisa bekerja karena persyaratan untuk diterima
sebagai pegawai di suatu lembaga atau dunia usaha dan industri kian
hari kian bertambah, yang antara lain harus menguasai bahasa asing,
komputer dan kewirausahaan. Lulusan sekolah yang mau melanjutkan ke
jenjang pendidikan yang lebih tinggi setiap tahun bertambah banyak,
namun kemampuan bersaing dalam ujian pada umumnya masih rendah sehingga
persentase lulusan yang diterima dan bisa melanjutkan pendidikan hanya
sedikit.
- Rendahnya kepercayaan masyarakat
Masyarakat Indonesia
pada umumnya masih memiliki tingkat kepercayaan yang kurang terhadap
produktivitas pendidikan, khususnya yang diselenggarakan pada jalur
sekolah. Pendidikan sekolah secara umum belum mampu melahirkan sumber
daya manusia (SDM) yang berkualitas, yang siap pakai, baik untuk kerja
maupun untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kurang
berhasilnya program link and match (keterkaitan dan kesepadanan) dan
belum berhasilnya program pendidikan berbasis masyarakat serta kurikulum
berbasis kompetensi pada sekolah kejuruan menyebabkan kekurangpercayaan
masyarakat terhadap pendidikan.
- Birokrasi
Birokrasi yang masih
dipengaruhi faktor feodalisme dimana para pejabat lebih suka dilayani
daripada melayani masih melekat di lingkugan Dinas Pendidikan. Kebiasaan
lain seperti kurangnya prakarsa dan selalu menunggu juklak dan juknis
tidak menunjang bagi tumbuh kembangnya kepala sekolah profesional untuk
meningkatkan kualitas pendidikan. Disamping itu, dalam lingkungan
sekolah perilaku kepemimpinan kepala sekolah cenderung kurang transparan
dalam mengelolah sekolahnya. Hal ini menyebabkan kurang percayanya
tenaga kependidikan terhadap kepala sekolah, sehingga dapat menurunkan
kinerjanya dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah. Disamping
kurang mandiri, hambatan lain yang memperlemah kinerja kepala sekolah
adalah kurangnya kepekaan terhadap krisis (sense of crisis), rasa
memiliki dan rasa penting terhadap kualitas pendidikan, sehingga
menyebabkan lemahnya tanggung jawab, yang dapat menurunkan
partisipasinya dalam kegiatan sekolah. Fenomena tersebut terutama
disebabkan oleh kondisi yang selama bertahun-tahun dimana kepala sekolah
kurang mendapat pendidikan dan pelatihan yang mengarah pada sistem
manajemen modern, kalaupun ada pelatihan-pelatihan seringkali kurang
memacu prestasi dan potensi kepala sekolah.
- Rendanya produktivitas kerja
Produtivitas kerja yang
rendah antara lain disebabkan oleh rendahnya etos kerja dan disiplin.
Salah satu indikator dari masalah ini adalah masih rendahnya prestasi
belajar yang dapat dicapai peserta didik, baik prestasi akademis yang
tertera dalam buku laporan pendidikan dan nilai ujian akhir maupun
prestasi non-akademis serta partisipasinya dalam kehidupan dan
memecahkan berbagai persoalan yang ada di masyarakat. Lebih dari itu,
tidak jarang peserta didik yang justru menambah masalah bagi masyarakat
dan lingkungan, seperti keterlibannya dalam penggunaan obat-obat
terlarang, VCD porno dan perkelahian antar-pelajar.
- Belum tumbuhnya budaya mutu
Kualitas merupakan
gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang
menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau
yang tersirat. Kualitas dipahami pula sebagai apa yang dipahami atau
dikatakan oleh konsumen. Dalam konteks pendidikan, pengertian kualitas
mencakup input, proses dan output pendidikan. Input pendidikan adalah
segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk
berlangsungnya proses. Proses pendidikan merupakan berubahnya sesuatu
menjadi sesuatu yang lain. Sedangkan output pendidikan merupakan kinerja
sekolah, yaitu prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses dan
perilaku sekolah.
Paradigma baru kepala
sekolah profesional dalam konteks MBS dan KBK berimplikasi terhadap
budaya kualitas, yang memiliki elemen-elemen sebagai berikut:
- (1) informasi kualitas harus digunakan untuk perbaikan;
- (2) kewenangan harus sebatas tanggung jawab;
- (3) hasil harus diikuti hadiah dan hukuman;
- (4) kolaborasi, sinergi bukan kompetisi penuh melainka harus merupakan basis kerja sama, atau diistilahkan coopetition;
- (5) tenaga kependidikan harus merasa aman dalam melakukan pekerjaannya;
- (6) suasana keadilan harus ditanamkan; dan
- (7) imbas jasa harus sepadan dengan nilai pekerjaan.
Belum tumbuhnya budaya
kualitas baik dari segi input, proses maupun output pendidikan merupakan
faktor penghambat tumbuhnya kepala sekolah profesional. Dalam hal ini,
sekolah harus selalu menggalakkan peningkatan kualitas, yakni kepuasan
pelanggan, baik internal maupun eksternal.